Proposal Skripsi Model Pembelajaran Tematik

PROPOSAL
NAMA                   : LITSA NURRODLIFAH
NIM                       : 116051799
PRODI                   : PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH
FAKULTAS            : AGAMA ISLAM
JUDUL          : PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS IV DI SD N II TAMBAKSELO KEC. WIROSARI KAB. GROBOGAN TAHUN PELAJARAN 2014/2015

A.       Latar Belakang Masalah
Komponen utama dalam pendidikan adalah belajar. Belajar merupakan serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.[1] Belajar, sebagai karakteristik yang membedakan manusia dengan makhluk lain, merupakan aktivitas yang selalu dilakukan sepanjang hayat manusia, bahkan setiap harinya. Orang yang berilmu akan mendapat keistimewaan tersendiri dalam hidupnya, seperti kehormatan dan kebahagiaan berada di sisi Allah SWT dan Rasul-rasul-Nya. Hal tersebut terdapat dalam firman Allah swt surat Al-Mujaadillah ayat 11[2]:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚوَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan individu yang membawa suatu perubahan terkait dengan segala aspek organisme dan tingkah laku pribadi individu.  Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa belajar dapat membawa perubahan bagi individu, baik perubahan yang berkaitan dengan pengetahuan, sikap, maupun keterampilannya. Berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi tersebut, tentunya sangat membantu individu dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat membantu individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Melalui belajar manusia berusaha mengaktualisasikan potensi dirinya dengan lingkungannya seoptimal mungkin, agar tercapai kenikmatan hidup dalam penyesuaian yang harmonis, dinamis, dan keseimbangan antara dirinya dan lingkungannya.
Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan sebuah proses interaksi antara masing-masing individu yang melakukan kegiatan belajar mengajar itu sendiri. Hal ini dapat terjadi sesuai dengan tujuan atau bahkan bisa saja tujuan tersebut belum dapat tercapai karena beberapa hal, misalnya dalam penggunaan perangkat pembelajaran, media pembelajaran, atau karena kurang adanya sarana dan prasarana yang mendukung di dalam sekolah tersebut. Untuk mensukseskan proses pembelajaran harus diimbangi dengan adanya perangkat pembelajaran yang digunakan saat proses kegiatan belajar mengajar tersebut dilakukan. Misalnya dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan tema yang akan diajarkan. Dengan penggunaan model pembelajaran yang aktif dan kreatif dapat membantu untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Salah satu model pembelajaran yang efektif, serta dapat memberikan  kebebasan bagi siswa untuk memanfaatkan dan mewujudkan potensinya, adalah model pembelajaran tematik. Model pembelajaran tematik lebih menekankan pada peserta didik dalam proses belajar mengajarnya. Dalam penggunaan model pembelajaran, setiap guru selalu berusaha memadu-padankannya dengan materi/tema yang diajarkan, beserta dengan media, metode dan strategi yang sudah disiapkan. Supaya dalam kegiatan belajar mengajar tidak monoton dan lebih efektif dan efisien. Menurut teori dari Johnson dalam buku amani dan ditulis oleh Trianto dalam bukunya yang berjudul Model Pembelajaran Terpadu dalam teori dan Praktek, beliau menjelaskan bahwa untuk mengetahui sebuah kualitas sebuah model pembelajaran harus dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan produk.[3]
Setiap pembelajaran pasti akan memperoleh sistem yang berbeda-beda dalam penggunaan dan pengelolaannya di lingkungan belajar. Pembelajaran dan guru tidak dapat dipisahkan, oleh karenanya, adanya suatu proses pembelajaran itu datangnya dari pendidik. Selain itu, guru juga dituntut untuk lebih mengenal karakteristik dari pembelajaran tematik itu sendiri. Dalam menerapkan model pembelajaran tematik ini dalam proses kegaitan belajar dan mengajar di sekolah, guru harus mampu memunculkan karakteristik tematik sebagai pembeda dengan pembelajaran yang lainnya.
Guru sebagai suri tauladan bagi peserta didik dan faktor utama dalam menjalankan proses pembelajaran maka harus mampu untuk memahami karakteristik dari siswa dan dari mata pelajaran itu sendiri, sehingga akan tercapainya suatu tujuan pembelajaran. Agar materi yang disampaikan dapat ditangkap dan dipahami oleh peserta didik. Selain sebagai pendidik, guru juga berperan sebagai motivator bagi siswa ketika di dalam kelas maupun di luar kelas. Hal ini dapat diaktakan bahwa peran guru itu sangatlah penting dalam menjalankan proses pembelajaran. harus mampu untuk mampu memotivasi siswa agar mau dan bisa menerima materi sesuai dengan tujuannya masing-masing. Adapun firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21 dijelaskan sebagai berikut:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)[4]
Penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan materi akan membuat motivasi siswa semakin bertambah saat mengikuti pembelajaran maupun ketika sedang belajar dirumah. Hal ini disebabkan karena adanya atau pemakaian model yang memiliki kesan yang dalam bagi siswa dalam penyampaian materi di kelas maupun luar kelas. Motivasi siswa saat proses pembelajaran dapat menghidupkan suasana pembelajaran di kelas. Misalnya seorang siswa yang memiliki motivasi tinggi akan terlihat lebih aktif dan kreatif ketika mengikti kegiatan belajar mengajar. Seorang pendidik harus selalu memberikan motivasi atau dukungan belajar kepada siswa agar merka mampu menyrap dan merasa terkesan dengan materi yang disampaikan., sehingga pelajaran atau materi yang sesuai tema tersebut bisa selalu diingat dalam memori mereka.
B.       Alasan Pemilihan Judul
Alasan yang dapat mendorong penulis untuk memilih judul skripsi tentang Pengaruh Model Pembelajaran Tematik Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas IV SDN II Tambakselo Kec. Wirosari Kab. Grobogan. Tahun Pelajaran 2013/2014 antara lain adalah sebagai berikut:
1.        Pembelajaran tematik merupakan suatu pembelajaran yang menggabungkan antara beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema tanpa terpisahkan. Hal ini cukup menarik kiranya apabila diterapkan ke dalam proses pembelajaran di SD/MI, dimana SD/MI merupakan sekolah tingkat dasar. Pembelajaran tematik banyak dipengaruhi oleh eksplorasi kurikulum sehingga siswa dapat belajar mengenai topik bahasan secara disiplin dalam waktu yang bersamaan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami dan mengaplikasikan secara bersamaan mengenai jenis-jenis mata pelajaran dan isi mata pelajarannya secara baik, bermakna, berkesan, dan bermanfaat bagi siswa.
2.        Dalam pembelajaran tematik yang sifatnya menjadi sutu kesatuan dalam bentuk tema, membuat siswa merasa tertantang untuk mendapatkan banyak pengetahuan dan mampu meningkatkan  motivasi belajarnya. Sehingga tujuan pembelajarannya mampu tercapai denga baik.
3.        Model pembelajaran tematik ini, dalam penggunaannya apakah bisa memotivasi siswa kelas V di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari Kab. Grobogan. Baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah.

C.       Telaah Pustaka
Tujuan adanya telaah pustaka dalam penulisan skripsi yang saya tulis ini, agar tidak terjadi plagiasi dan terdapat batasan dan perbedaan yang menyertainya. Dalam penulisan skripsi penulis kali ini, penulis berusaha mencari dan menggali informasi dari hasil skripsi yang sebelumnya atau sudah dulu ada sebagai pertimbangan atas masalah-masalah yang diteliti, baik dari segi metode maupun subyek yang diteliti. Adapun kajian penelitian yang penulis gunakan adalah sebagai berikut:
1.    Penelitian yang telah dilakukan oleh Khurul’in, mahasiswa Fakultas Agama Prodi Pendidikan Gama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang. Penelitiannya yang berjudul “ Model Pembelajaran Tematik Dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Aqidah Akhlak Siswa Mis Candigugur Kec. Bawang Kab. Batang Tahun Pelajaran 2010/2011
Tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahaui bagaimanakah penggunaan model pembelajaran tematik apabila digunakan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, dan apakah ada pengaruh dalam penggunaan model pembelajaran tematik tersebut terhadap prestasi belajar aqidah akhlak siswa di MIS Candigugur Kec. Bawang Kab. Batang.
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang penulis tulis adalah terletak pada tingkat pengaruh atau fokus penelitiannya. Jika dalam penelitian penulis membatasi pada motivasi belajar siswa, maka dalam skripsi milih saudari Khurul’in ini lebih memfokuskan pada prestasi belajar aqidah akhlak siswanya.
Hasil penelitian yang didapatkan dalam penelitian tersebut adalah bahwa dalam penggunaan model pembelajaran tematik di MIS Candigugur Kec. Bawang Kab. Batang penulis bertujuan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan membuat siswa merasa termotivasi untuk belajar lebih giat dalam mempelajari materi dalam kurikulum/pembelajaran tematik ini.[5]
2.      Penelitian yang dilaksanakan oleh Rita Zahara Mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Jakarta. Judul yang dipilih adalah “Pengaruh Pendekatan Tematik Terhadap Hasil Belajar IPA”. Tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruhnya dalam penggunaan pembelajaran tematik terhadap prestasi belajar siswa.
 Hasil dari penelitian ini adalah penggunaan tematik dalam proses pembelajran IPA di MI Pembangunan UIN Jakarta ternyata mempengaruhi. Hal ini bisa dilihat dari hasil belajar siswa yang lebih meningkat atau lebih tinggi ketika menggunakan pendekatan tematik dibandingkan ketika menggunakan pendekatan terpisah.
Perbedaan dari skirpsi penulis adalah metode yang digunakan adalah metode jenis Quasi eksperimen dengan menggunakan nonrandomized control gruop pretest-pretest design. Persamaannya dengan skripsi saya adalah subjek yang kami teliti sama-sama menggunakan model tematik, yaitu suatu konsep pembelajaran yang tidak terpisah.[6]
3.    Penelitian dengan judul “Penerpan Model Pembelajaran Tematik untuk meningkatkan aktivitas belajar matetika siswa di madrasah ibtidaiyyah (penelitian Tindakan Kelas di MI Pembangunan UIN Jakarta)” yang ditulis oleh Khanifah Mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2009. Tujuan penelitian dari skripsi tersebut adalah untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar matematika siswa melalui penerapan model pembelajaran tematik.
Perbedaan penelitian tersebut di atas dengan skripsi penulis adalah terletak pada metode penelitian dan konsep dalam pemilihan objek penelitiannya. Dalam penelitian tersebut menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (Action Research), yaitu yang terdiri dari empat tahap, antara lain tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Obyek yang diteliti yaitu peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa dan aktivitas belajar matematika pada siswa dalam menerapkan pembelajaran tematik di sekolah MI Pembangunan UIN Jakarta.[7]
Dari ketiga telaah pustaka diatas, berbeda dengan penulisan skripsi yang akan saya sajikan dengan pemilihan judul skripsi yaitu pengaruh penggunaan model pembelajaran tematik terhadap motivasi belajar siswa di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari, Kab. Grobogan. Dimana fokus peneltian saya bukanlah kepada mata pelajaran yang dapat mempengaruhi penggunaan model pembelajaran tematik tersebut, tetapi lebih kepada tingkat motivasi siswa. Yaitu bagaimanakah tingkat motivasi/motivasi belajar siswa itu sendiri setelah menerima proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tematik ini.



D.       Penegasan Istilah
Sebelum penulis membahas lebih lanjut mengenai isi dari proposal ini, penting kiranya untuk dijelaskan beberapa pengertian mengenai judul penelitian ini dengan harapan agar dapat dipahami, terarah, jelas, dan tepat sasaran. Untuk itu perlu dikemukakan batasan-batasan judul agar tidak terjadi kesalah pahaman dan salah dalam penafsiran.
1.    Model pembelajaran
Menurut Trianto model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau suatu pola yang dugunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di dalam kelas atau pembelajaran dalam tutorial.[8] Model pembelajaran tematik merupakan sebuah konsep dalam proses pembelajaran yang dalam penerapannya itu dilakukan secara sistematis dalam bentuk tema dan bukan dalam materi terpisah seperti pada kurikulum sebelumnya. Dengan penggunaan model pembelajaran,  diharapkan siswa mampu memahami suatu tema pembelajaran dalam pembelajaran tematik sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai selanjutnya siswa dapat menerapkan hal-hal yang mereka pelajari ke dalam kehidupan sehari-hari.
2.    Pembelajaran Tematik
Pembelajaran berbasis kurikulum tematik (pendekatan tematik) adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan (mengintegrasikan dan memadukan) beberapa mata pelajaran sehingga melahirkan pengalaman yang sangat berharga bagi peserta didik.[9]
Pembelajaran tematik di MI/SD adalah pembelajaran yang ada pada kurikulum baru atau saekarang ini. Pembelajaran ini baru diterapkan pada beberapa kelas. Seperti di kelas 1, 2 4, dan 5. Pembelajaran ini sebenarnya masih perlu adaptasi jika akan diterapkan dalam kelas, tujuannya agar seorang guru yang mengajar dapat dengan mudah menyampaikan apabila guru tersebut telah memahami mengenai karakteristik dari pembelajaran ini.
3.    Motivasi Belajar
Motivasi dapat disebut sebagai suatu dukungan atau dorongan positif yang timbul akibat dari adanya suatu permasalahan atau peristiwa. Motivasi menurut pengertian secara dasar adalah keadaan internal organisme –baik manusia maupun hewan- yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu.[10] Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
Sedangkan belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap baru.[11] Dari kedua definisi tersebut dapat penulis simpulkan mengenai motivasi belajar, yaitu suatu dorongan yang positif yang diterima oleh seseorang untuk mendapatkan atau memperoleh kebiasaan-kebiasaan, penegtahuan, dan sikap yang baru dan positif.

E.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat ditarik rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.        Seberapa besarkah pengaruh penggunaan model pembelajaran tematik di kelas IV SDN II Tambakselo Kec. Wirosari, Kab. Grobogan?
2.        Seberapa besarkah pengaruh motivasi belajar dalam penggunaan pembelajaran tematik di Kelas IV SD II Tambakselo Kec. Wirosari, Kab. Grobogan?
3.        Adakah pengaruh pengaruh penggunaan Model Pembelajaran tematik pada siswa kelas IV di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari, Kab. Grobogan terhadap Motivasi belajar peserta didik?



F.        Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.        Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ada di atas, maka tujuan penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a.              Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan model pembelajaran tematik  kelas IV di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari, Kab. Grobogan .
b.             Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat motivasi yang dimiliki oleh siswa kelas IV di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari, Kab. Grobogan setelah menggunakan model pembelajaran tematik dalam proses kegiatan belajar mengajar.
c.              Untuk mengetahui adakah pengaruh penggunaan model pembelajaran tematik terhadap motivasi belajar siswa kelas IV di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari, Kab. Grobogan .

2.        Manfaat Peneltian
Adapun manfaat yang diharapkan oleh peneliti dalam penelitian ini anatar lain adalah sebagai berikut:
1.         Manfaat Teoritis
Bagi penulis sendiri, manfaat dri adanya penelitian ini adalah, untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis mengenai model pembelajaran tematik itu sendiri serta memahami bagaimanakah motivasi-motivasi siswa ketika dalam menerima proses pembelajaran di kelas. Dari pengrathuan mengenai model pembelajaran secara tematik tersebut, maka siswa dapat memperoleh jenis pengetahuan baik secara kognitif, religius/sosial, afektif, maupun psikomotoriknya.
2.      Manfaat Praktis
Dari penelitian ini, diharapkan mampu meberi manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah, antar lain:

a.       Bagi Siswa
1)      Meningkatakan motivasi siswa dalam menerima pelajaran
2)      Memudahkan siswa untuk memahami tema-tema dalam pembelajaran
3)      Menjadikan siswa lebih aktif dan kreatif sesuai dengan potensi yang dimilkinya.
b.      Bagi Guru
Dapat meningkatkan aktivitas mengajar guru dalam menyampaikan materi kepada siswa, dan membantu para siswa untuk dapat mewujudkan potensi serta ketrampilan yang dimilikinya. Selain itu dapat melatih keefektifitasan guru dan kreatifitas guru pada saat mengajar, sehingga guru dapat lebih profesional ketika mengajar.
c.       Bagi Sekolahan
Dengan menggunakan model pembelajaran tematik dalam suatu lembaga sekolahahan dapat melatih kreatifitas siswa dan guru. Sehingga apabila siswa dan guru terjalin komunikasi yang baik saat proses pembelajaran maka kegiatan belajar mengajar akan berjalan sesuai yang diinginkan. Sehingga sekolah bisa dikatakan sukses dalam menerapkan model pembelajaran ini. Dan dapat menaikkan mutu pembelajarana sekolah tersebut juga sekolah-sekolah yang lainnya.

G.      Landasan Teori
1.        Model Pembelajaran Tematik
a.         Pengertian Model Pembelajaran Tematik
Belajar, mengajar, dan pembelajaran adalah suatu proses yang terjadi secara bersamaan. Belajar dapat terjadi tanpa adanya guru. Namun berbeda dengan mengajar, karena mengajar meliputi segala macam hal yang guru lakukan di dalam kelas. Sedangkan pembelajaran adalah suatu usaha yang sudah terencana dan terprogram secara sadar melalui proses aksi, interaksi, transakasi, dan komunikasi dengan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku.[12]
Konsep pembelajaran tematik itu sendiri tumbuh berdasarkan pengembangan dari pemikiran dua orang tokoh pendidikan yakni Jacob tahun 1989 dengan konsep pembelajaran interdisipliner dan Fogarty pada tahun 1991 dengan konsep pembelajaran terpadu.[13] Model pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang efektif dan sesuai bagi guru untuk memahami pekembangan dan karakteristik dari peserta didik. Disebut demikian, karena model pembelajaran tematik ini memuat konsep pembelajaran terpadu menggunakan tema untuk mengkaitkan beberapa materi pelajaran dalam satu kali pertemuan sekaligus. Guru sebagai pengajar harus lebih bisa memahami karakter dari tema sebelum dibuat sebuah rencana pembelajaran atau merancang proses belajar mengajar. Dengan menggunakan model pembelajaran tematik, sebenarnya guru telah memberikan ruang luas atau kebebasan bagi siswa untuk mengeluarkan atau mengeksplor potensi yang dimiliki serta gagasan-gagasannya.
Tematik berasal dari kata tema/pembelajaran yaitu pokok pikiran atau gagasan utama yang menjadi inti utama pembicaraan atau pembahasan dalam kegiatan pembelajaran.[14] “Dalam pengertian psikologi, belajar merupakan suatu proses yang bersifat internal, yaitu belajar itu merupakan suatu proses yang isfatnya abstrak”.[15] Artinya, bahwa belajar itu hanya mampu untuk dirasakan tanpa bisa dilihat secara kasat mata. Pengertian belajar dengan teknik belajar, itu berbeda. Namun, ada beberapa yang menganggap sama antara kedua pengertian tersebut. Jika belajar itu sifatnya masih abstrak, berbeda dengan teknik belajar yang sifatnya sudah nyata (konkrit).
Dalam melakukan proses pembelajaran, penggunaan model pembelajaran tidak selamanya bisa dikatakan mampu memberikan pencapaian (prestasi) yang maksimal atau motivasi yang sangat baik, namun adakalanya penggunaan suatu model pembelajaran yang satu dengan yang lainnya itu memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai dengan isi materi yang diajarkan.
Dari penjelasan di atas, menurut penulis model pembelajaran tematik merupakan suatu proses yang ada dalam pembelajaran yang sifatnya mengintegrasikan atau menggabungkan berbagai materi pokok berdasarkan tema, dengan tujuan setiap tema atau pokok pembelajaran dapat diimplikasikan oleh siswa seperti pengalaman-pengalaman yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penggunaannya, model pembelajaran tematik ini lebih menekankan kepada potensi yang dimiliki oleh siswa kemudian dieksplor ke dalam cara belajar dan menerima pembelajaran.

b.      Landasan Model Pembelajaran Tematik
Model pembelajaran tematik ini memiliki beberapa landasan sebagai penopang penerapannya dalam kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. Secara garis besar landasan tersebut terbagi menjadi tiga hal, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis. Masing-masing memiliki penjelasannya, antara lain.



1)      Landasan Filosofis
Filosofis dalam bahasa Yunani disebut philosophy yang berasal dari kata philein yang berarti mencintai, dan shopis atau shopos yang berarti hikmah, arif, dan bijkasana.[16]
2)      Landasan Psikologis
Landasan psikologis dalam penerapan kurikulum tematik sangat berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar.[17] Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.[18]
3)      Landasan Yuridis
Landasan yuridis ini sesuai dengan kelengkapan legalitas secara formal yang dimilki oleh lembaga pendidikan di SD/MI yang terdiri atas berbagai ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang sifatnya mengikat atau memaksa, serta mendukung penerapan kurikulum tematik ditingakat pendidikan dasar.[19]

c.       Prinsip Dasar Model Pembelajaran Tematik
Secara umum, prinsip-prinsip pembelajaran tematik dapat dikalsifikasikan menjadi:[20]
1.      Pembelajaran tematik integratif memiliki satu tema yng aktual, dekat dengan dunia siswa dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi alat pemersatu materi yang beragam dari beberapa materi pelajaran.
2.      Dalam pembelajaran tematik, perlu memilih beberapa materi yang saling terkait agar terwujud tema yang bermakna.
3.      Pembelajaran tematik ini tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum yang berlaku tetapi sebaliknya, harus mendukung yang harus mendukung pencapaian tujuan secara utuh dalam kegiatan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum.
4.      Materi pembelajaran yang ada dapat dipadukan pada tema sesuai dengan karakteristik siswa seperti minat, kebutuhan, kemampuan dan pengetahuan awal.
5.      Tidak memaksakan materi-materi pada sebuah tema yang terpadu. Cukup dengan materi yang dapat idgabung agar mudah dipahami oleh siswa.

d.      Kelemahan dan kelebihan Model Pembelajaran Tematik
1)      Kelemahan Dalam Penggunaan Model Pembelajaran Tematik
Ada beberapa bentuk kelemahan atau keterbatasan dalam penggunaan model pembelajaran tematik ini, terutama terletak pada pelaksanaannya yang belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan keinginan atau tujuan sesuai dengan adanya tujuan kurikulum saat ini. Selain itu juga keterbasan yang lain yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja.[21]
2)      Kelebihan Dalam Penggunaan Model Pembelajaran Tematik
Ada beberapa keunggulan dalam menggunakan model pembelajaran tematik ini ketika melakukan proses belajar mengajar, antara lain misalnya[22]:
a)    Kegiatan pembelajaran antara guru dan peserta didik lebih fokus pada proses dari pada produknya.
b)   Membuat siswa merasa mandiri dan percaya diri sehingga mampu mendorong siswa untuk menemukan sendiri mengenai konsep-konsep pengetahuan.
c)    Selain dapat fokus terhadap tema tertentu yang sesuai dengan materi yang diajarkan, siswa juga bisa mempelajari dan mengembangkan sebuah tema yang sama dalam berbagai materi pelajaran.
d)   Para peserta didik dapat mengembangkan kompetensi dasar dengan lebih baik karena dengan kurikulum tematik, mereka akan selalu mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata yang diperoleh di lapangan serta lebih antusias dalam proses KBM.
e)    Dengan adanya pemanduan antarmateri pelajaran maka penguasaan konsep ilmu yang diajarkan kepada para peserta didik semakin kuat dan berkembang sehingga hasil belajar yang diperoleh akan bertahan secara lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna.

e.       Karakteristik Model Pembelajaran Tematik
Karakteristik dalam pembelajaran tematik ini sangatlah penting untuk dimunculkan, karena tujuan dari sebuah kurikulum ini yaitu agar dapat terciptanya karakter yang mulia dan positif dari peserte didik, maka adapun beberapa karakter dari model pembelajaran ini antara lain yaitu:
1.        Berpusat pada peserta didik.
2.        Memberikan pengalaman secara langsung.
3.        Tidak terjadi pemisahan materi secara jelas.
4.        Menyajikan konsep dari berbagai materi pelajaran.
5.        Bersifat fleksibel.
6.        Hasilnya sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
7.        Menggunakan prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan.
8.        Dapat mengembangkan komunikasi peserta didik.
9.        Mengembangkan kemampuan metakognisi peserta didik.
10.    Lebih menekankan proses dari pada hasil.

2.        Motivasi Belajar
a.    Motivasi
1)   Pengertian Motivasi
Motivasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam sebuah proses pembelajaran. Motivasi secara dasar dapat diartikan sebagai keadaan internal organisme (baik manusia atau hewan) yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu.[23] Adanya motivasi ini dapat mensukseskan kegiatan belajar mengajar dan membuat siswa serta Guru merasa bergairah untuk mengikuti proses pembelajaran sampai akhir. Motivasi ini bisa muncul berkat dari dorongan orang-orang atau kondisi dilingkungan sekitar.
Untuk memotivasi seseorang tentunya tak semudah dengan apa yang diucapkan, karena sesuatu hal yang apabila menurut kita baik dan cocok, maka belum tentu hal itu akan baik dan cocok untuk orang lain. Sehingga seorang guru, harus mampu mengetahui kondisi dan keadaan siswanya agar motivasi yang diberikan itu dapat diterima dengan baik.
2)   Fungsi Motivasi
Dalam motivasi, terdapat dua fungsi yang berbeda, antara lain yaitu[24]
a)        Mengarahkan (directional function) : Dalam mengarahkan kegiatan, motivasi berperan mendekatkan atau menjauhkan individu dari sasaran yang akan dicapai. Apabila sesuatu sasaran atau tujuan merupakan suatu hal yang diinginkan oleh individu maka bersifat mendekatkan (approach motivation), jika kondisi yang terjadi sebaliknya maka bersifat menjauhkan (avoidance motivation).
b)        Mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan (activing and energizing motivation) : Sesuatu yang tidak memiliki motif atau misi, maka akan tidak sungguh-sungguh dalam melakukannya, kemungkinan tidak akan terarah atau bahkan tidak akan ada hasilnya, namun berbeda jika hal yang akan dilakukan itu memiliki tingkat motivasi yang tinggi, kuat dan terarah, maka akan dilakukan secara sungguh-sungguh dan kemungkinan besar ada hasilnya.

3)   Macam-macam Motivasi
Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar, misalnya seperti perasaan atas kensenangan terhadap suatu materi dan kebutuhan akan materi tersebut.[25] Sedangkan yang disebut dengan motivasi ekstrinsik ialah hal atau keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar, misalnya seperti pujian dari guru atau anggota keluarga atau bisa juga seperti tata tertib atau perarturan di sekolah yang mengharuskan seorang siswa harus mau untuk belajar.[26]
4)   Bentuk-bentuk Motivasi
Ada beberapa jenis atau bentuk motivasi yang digunakan oleh guru kepada peserta didiknya dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas maupun di sekolah, antara lain yaitu:
1.    Memberi Angka
2.    Memberi pujian
3.    Memberi hukuman
4.    Persaingan / kompetisi
5.    Celaan

b.         Belajar
1)      Pengertian Belajar
Pengertian belajar memang selalu berkaitan dengan perubahan, baik yang meliputi keseluruhan tungkah laku individu maupun yang hanya terjadi pada beberapa aspek dari kepribadian individu.[27] Menurut beberapa ahli, mereka mendefinisikan kata belajar sebagai berikut:
a)        Menurut dari Gage dan Berliner yang dikutip oleh Nana syaodih S. Dalam bukunya yang berjudul Landasan Psikologi Proses Pendidikan menyebutkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang muncul karena pengalaman.[28]
b)        Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia.[29]
c)        C.T Morgan dalam Introduction to  Psychology yang dikutip oleh Alex Sobur dalam Bukunya Psikologi Umum mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.[30]
Jadi menurut beberapa pengertian diatas, dapat saya simpulkan bahwa belajar merupakan suatu usaha baik dari pengalaman masa lalu ataupun sekarang untuk mencari tahu akan sebuah hal yang belum mereka ketahui hingga pada akhirnya mereka tahu dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Belajar merupakan sesuatu yang sangat sering dilakukan oleh manusia yang ada dimuka bumi ini. Mereka mencoba untuk mencari tahu dengan belajar.
2)      Unsur-unsur belajar
Unsur-unsur belajar merupakan faktor penting dalam tercapainya suatu hasil belajar yang memuaskan. Dalam hal ini, saya ambil teori/definisi dari Cronbach yang dikuti oleh Nana Syaodih Sukmadinata, ia mengemukakan adanya tujuh unsur utama dalam proses belajar, yaitu: (a) Tujuan, (b) Kesiapan, (c) Situasi, (d) Interpretasi, (e) Respons, (f) Konsekuensi, (g) Reaksi terhadap kegagalan.[31]





3)      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
a)      Faktor Endogen/Internal
Faktor ini berasal dari dalam diri individu, yang termasuk dalam faktor internal antara lain yaitu:
1.      Faktor Fisik yang meliputi seluruh anggota jasmaniah individu itu sendiri. Aspek ini meliputi alat indra individu.
2.      Faktor Psikis yang meliputi seluruh anggota dari kerohanian seorang individu. Yang termasuk ke dalam aspek psikis misalnya, tingkat intelegensi, kemampuan berpikir sosial, psikomotorik, dan sebagainya.
b)      Faktor Eksogen/Eksternal
faktor eksternal adalah kebalikan dari faktor internal, faktor ini berasal dari luar diri individu, antara lain sebgai berikut:
1.      Faktor Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi seorang individu dalam melakukan proses pendidikan sebelum lingkungan sekolah dan masyarakat ataupun lingkungan yang lainnya. Dalam keluarga individu yang harmonis maka akan tercipta proses belajar yang harmonis pula. 
2.      Faktor Sekolah
Lingkungan sekolah merupakan tempat dimana siswa bertemu dngan teman atau guru mereka dengan tujuan agar bisa belajar dan mendapatkan ilmu. Sekolah sebagai tempat untuk menuntut ilmu juga sangat berperan penting pada hasil belajar siswa. Teman yang baik dan guru yang bijaksana serta pandai dalam memberikan materi dapat mensukseskan proses belajar siswa, dengan catatan siswa harus mau untuk mendengarkan dan memahami materi yang diajarkan.
3.      Faktor Lingkungan Lain
Lingkungan lain yang dimaksud disini bisa masyarakat atau lingkungan sekitar rumah maupun sekolah. Keadaan lingkungan yang tentram dan damai akan mendukung seorang individu untuk belajar dengan baik dan tenang, namun apabila keadaan lingkungan sekitar sangatlah gaduh dan penuh keramaian, maka individu hanya akan mengalami kesulitan dalam menyerap materi pelajaran.

H.    Rumusan Hipotesis
Hipotesis atau jawaban sementara/dugaan sementara terhadap pertanyaan penelitian banyak memberi manfaat bagi pelaksanaan penelitian.[32] Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap rumusan penelitian, dikatakan sementara karena, jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori, dan belum menggunakan fakta.[33] Sifat dari hipotesis ini yaitu ada dua kemungkinan, yaitu kemungkinan untuk benar ataupun salah, kedudukan hipotesis akan dianggap benar jika fakta dan data yang didapat dari penelitian dapat membuktikannya, sebaliknya jika fakta dan data yang didapat tidak bisa membuktikannya maka hipotesis ditolak. Adapun hipotesis yang penulis ajukan sesuai dengan judul yang penulis pilih adalah “ Model Pembelajaran Tematik berpengaruh positif terhadap penigkatan Motivasi Belajar Siswa kelas IV di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari Kab. Grobogan tahun pelajaran 2014/2015”.

I.       Metode Penelitian
1.    Jenis Penelitian dan Pendekatannya
Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (file research), yaitu penelitian yang akan berhubungan langsung dengan objek yang akan diteliti. Sedangkan pendekatan yang saya gunakan dalam penelitiani ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang dalam penyajian hasil analisis datanya disajikan dalam be ntuk diskripsi dengan menggunakan angka-angka statistik[34], dengan rumus yang saya gunakan dalam penulisan penelitian ini yaitu koefisien korelasi product momment. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi, yaitu metode dengan menghubungkan antara variabel yang dipilih dan dijelaskan dan bertujuan untuk meneliti sejauh mana variabel pada suatu faktor berkaitan dengan variabel yang lain.

2.      Populasi dan Sampel Penelitian
a.         Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.[35] Jumlah populasi dalam penelitian yang saya laksanakan di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari Kab. Grobogan  adalah seluruh siswa kelas IV yang berjumlah 32 siswa yang terdiri dari - siswa perempuan dan - siswa laki-laki.
b.         Sampel
Sampel adalah proses pemilihan sejumlah individu untuk suatu penelitian sedemikian rupa sehingga individu-individu tersebut merupakan perwakilan kelompok yang lebih besar berdasarkan dengan jumlah populasi yang telah ditentukan.[36] Dalam penelitian yang saya laksanakan ini populasinya kurang dari 100, maka tidak diambil sampel. Sebagaimana pendapat yang disampaikan oleh Arikunto, jika sampel dari populasi yang jumlahnya kurang dari 100 orang, lebih baik diambil semua. Sedangkan jika jumlah subyek lebih dari 100 dapat diambil 10-15% atau 20-25% dari jumlah populasi penelitian.[37] Untuk itu, dalam penelitian ini langsung mengambil dari populasi yang sudah ada dan ditentukan.

3.    Variabel dan Indikator
Variabel merupakan suatu ciri khas dari objek yang akan diteliti, individu, atau pada suatu peristiwa yang sifatnya bisa berubah-ubah.[38] Dalam penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas (independent) yaitu variabel yang mempengaruhi (X) dan variabel terikat (dependent) yaitu variabel yang dipengaruhi (Y).[39] Di mana dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat, yaitu:
a.       Variabel Bebas (Independent Variable) :
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Model Pembelajaran Tematik, dengan indikatornya sebagai berikut:
1)        Berpusat pada peserta didik.
2)        Memberikan pengalaman secara langsung.
3)        Menyajikan konsep dari berbagai materi pelajaran.
4)        Hasilnya sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
5)        Menggunakan prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan.[40]



b.      Variabel Terikat (Dependent Variable) :
Variabel terikatnya (dependent) dalam penelitian ini adalah Motivasi Belajar Siswa, dengan indikatornya antara lain:
1)        Memberi pujian.
2)        Memberi hukuman.
3)        Confident (Percaya diri).[41]

4.    Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai sarana untuk menentukan data yang akan diteliti. Sumber data dalam penelitian ada dua macam, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
a.       Sumber Data Primer
Sumber data primer merupakan sumber data yang sifatnya pokok, yaitu data yang akan diteliti dan dikumpulkan sesuai dengan objek yang telah diteliti dilapangan. Yang dimaksud disini adalah lembaga atau orang yang menjadi objek penelitian.
b.      Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber data kedua atau sumber data yang sifatnya sebagai pendukung dari sumber data primer.

5.    Teknik Pengumpulan Data
Data yang diambil dari penelitian ini dihimpun dari data lapangan dan data-data kepustakaan. Teknik pengumpulan data yang digunakann dalam penulisan penelitian ini antara lain adalah:
a.       Angket
Metode angket adalah daftar pertanyaan untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari responden.[42] Metode ini digunakan untuk mengetahui variabel model pembelajaran tematik (variabel X) terhadap motivasi belajar siswa (variabel Y).
b.      Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya.[43] Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang nama-nama peserta didik sebagai subyek penelitian dan motivasi belajar yang ditunjukkan oleh respon / tanggapan dalam mengikuti proses pembelajaran dengan bukti nilai yang didapat oleh siswa kelas IV di SDN II Tambakselo Kec. Wirosari Kab. Grobogan TAHUN PELAJARAN 2014/2015.
c.       Observasi
Pengamatan atau observasi adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.[44]
d.      Wawancara (Interview)
Wawancara (bahasa Inggris: interview) merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.[45]
6.    Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis berdasarkan rumus statistik yangsesuai dengan jenis penelitian. Adapun langkah-langkah dalam menentukan atau menganalisis data adalah sebagai berikut:
a.       Analisis Pendahuluan
Pada tahap ini, data yang yang dibuat berupa data kualitatif dan kemudian dikelompokkan untuk diubah ke dalam data yang bersifat kuantitatif. Data yang diubah ke dalam kuantitatif kemudian diberikan alternatif nilai atau skor untuk mempermudah proses analisis data. Kriteria jawaban yang digunakan dalam angket untuk analisis data kuantitatif antara lain sebagai berikut:
1)   Untuk alternatif jawaban a dengan sekor nilai 4.
2)   Untuk alternatif jawaban b dengan sekor nilai 3.
3)   Untuk alternatif jawaban c dengan sekor nilai 2.
4)   Untuk alternatif jawaban d dengan sekor nilai 1.
Untuk alternatif pilihan jawabannya dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:
a)    Sering
b)   Selalu
c)    Kadang-kadang
d)   Tidak pernah
b.      Analisis Uji Hipotesis
Dalam melakukan penelitian ini, maka diadakannya pula uji hipotesis untuk membuktikan kebenaran atau tingkat positifnya dari penelitian yang saya lakukan. Berdasarkan variabel yang ada diatas yaitu variabel X dan Y, maka akan dibagi dalam dua kelompok dengan menggunakan rumus korelasi Product Momment sebagai berikut:[46]
Keterangan :
rxy       = Angka indek Korelasi “r” Product Moment
N         = Number of Cases (populasi/responden)
Σ XY   = Jumlah hasil Perkalian antara skor X dan skor Y
Σ X      = Jumlah seluruh skor X
Σ Y      = Jumlah seluruh skor Y

c.       Analisis Lanjut
Di dalam analisis ini penulis menginterpretasikan hasil yang diperolehnya yang selanjutnya akan dapat diketahui sejauh mana pengaruh model pembelajaran tematik terhadap motivasi belajar siswa.
Jika ro lebih besar atau sama dengan rt berarti signifikan, artinya rumusan hipotesis dalam penelitian dapat diterima. Jadi memang ada hubungan yang positif antara model pembelajaran tematik terhadap motivasi belajar siswa. Dan jika ro lebih kecil dari rt berarti non signifikan, maksudnya hipotesis dalam penelitian ditolak atau tidak ada hubungan antara komunikasi guru dengan siswa dengan perkembangan motivasi belajar siswa.

J.      Sistematika Penyusunan Skripsi
Dalam penyusunan skripsi ini, adapun sistematikanya antara lain adalah sebagai berikut:
1.         Bagian Awal
Pada bagian ini akan dimuat berbagai halaman diantaranya adalah: halaman judul, halaman persembahan, halaman pengesahan, halaman motto, halaman nota pembimbing, kata pengantar, halaman pedoman transliterasi, daftar isi, dan daftar tabel.
2.         Bagian Isi (Batang Tubuh)
Pada bagian ini memuat lima bab, yaitu:
Bab I        : Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, telaah pustaka, perumusan masalah, penegasan istilah, tujuan dan manfaat penelitian, rumusan hipotesis, metode penelitian, sistematika penulisan skripsi.
Bab II       : Landasan Teori
Pada bagian pertama berisi tentang model pembelajaran tematik, pengertian model pembelajaran tematik, landasan model pembelajaran tematik, prinsip dasar model pembelajaran tematik, kelemahan dan kelebihan pembelajaran tematik, dan karakteristik model pembelajaran tematik. Bagian kedua berisi tentang pengertian motivasi, fungsi motivasi, macam-macam motivasi, pengertian belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, hubungan model pembelajaran tematik terhadap motivasi belajar siswa.
Bab III     : Laporan Hasil Penelitian
Berisi tentang laporan situasi umum populasi, laporan hasil penelitian tentang model pembelajaran tematik dan pengaruhnya terhadap motivasi belajar siswa.
Bab IV     : Analisis Hasil Penelitian
Berisi tentang laporan pelaksanaan penelitian yang terdiri dari orientasi kancah penelitian, persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian serta analisis data penelitian.

Bab V : Penutup
Berisi tentang kesimpulan, saran, dan kata penutup.
3.      Bagian Akhir
Pada bagian ini memuat mengenai halaman daftar pustaka, lampiran-lampiran hasil laporan, dan daftar riwayat hidup penulis.


























DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Pendidikan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. 2006.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemahan surat Al-Mujaadillah ayat 11.

Hajar, Ibnu. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan. Semarang: Fakultas Tarbiyyah IAIN Walisongo, 1994.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengamatan - di unduh pada tanggal 25 Oktober 2014 pukul 22:00


Jamarah, Syaiful Bakhri. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Cet 1. 2002.

Khanifah. NIM 104017000551. Penelitian yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Tematik untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Di Madrasah Intidaiyyah (Penelitian Tindakan Kelas di MI Pembangunan UIN Jakarta). Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2009.http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/15742/1/KHANIFAH-FITK diunduh pada tanggal 22 Oktober pukul 15:00 wib.

Khurul’in. NIM 066011268. Penelitian dengan judul Model Pembelajaran Tematik Dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Aqidah Akhlak Siswa Mis Candigugur Kec. Bawang Kab. Batang Tahun Pelajaran 2010/2011. Semarang. Universitas Wahid Hasyim Semarang, Fakultas Agama Islam. 2011.

Koentjoroningrat. Metode-metode penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia. 1989.

Mahmud. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia. 2010.
Majid, Abdul. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cet ke II. 2014.

Rita Zahara. NIM 107018303955. Penelitian dengan judul Pengaruh Pendekatan Tematik Terhadap Hasil Belajar IPA. Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011. http://pbsi.fitk.uinjkt.ac.id/phocadownload/pengaruh-pend-tematik-terhadap-hasil.pdf diunduh pada tanggal 25 Oktober 2014 pukul 13:00 wib.

Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakara: Rajawali Press., 2011.

Sobur, Alex. Psikologi Umum. Bandung: CV Pustaka Setia. 2010.
Sudjana, Nana dan Ibrahim. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Cet 4. 2007.

Sudjiono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2010.

Sugiyono. Metode Penelitian Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. 2006.

________. Sistematika Penelitian. Bandung: Alfa Beta. 2000.

________. Statistik Nonparametris Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta. Cet VI. 2006.

Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Cet ke VI. 2011

Sumanto. Metodologi Penelitian sosiologi dan Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset. 1990.

Suyono dan Hariyanto. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2011.

Trianto. Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori & Praktek. Jakarta: Prestasi  Pustaka. 2007.


[1] Mahmud, Psikologi Pendidikan,. Bandung: CV Pustaka Setia, 2010, h 61.
[2] Al-Qur’an Terjemahan surat Al-Mujaadillah ayat 11.
[3] Trianto, Model Pembelajarn Terpadu dalam Teori dan Prakte,. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007, h 5.
[4] Op. Cit., Surat Al-Ahzab ayat 21.
[5] Khurul’in. NIM 066011268. Penelitian dengan judul Model Pembelajaran Tematik Dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Aqidah Akhlak Siswa Mis Candigugur Kec. Bawang Kab. Batang Tahun Pelajaran 2010/2011. Semarang. Universitas Wahid Hasyim Semarang, Fakultas Agama Islam. 2011.
[6] Rita Zahara. NIM 107018303955. Penelitian dengan judul Pengaruh Pendekatan Tematik Terhadap Hasil Belajar IPA. Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011. http://pbsi.fitk.uinjkt.ac.id/phocadownload/pengaruh-pend-tematik-terhadap-hasil.pdf diakses pada tanggal 25 Oktober 2014 pukul 13:00 wib.
[7] Khanifah. NIM 104017000551. Penelitian yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Tematik untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Di Madrasah Intidaiyyah (Penelitian Tindakan Kelas di MI Pembangunan UIN Jakarta). Jakarta. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2009. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/15742/1/KHANIFAH-FITK diunduh pada tanggal 22 Oktober 2014 pukul 15:00 wib.
[8] Trianto, Op, cit., h  2.
[9] Ibnu Hajar, Panduan Lengkap Kurikulum Tematik Untuk SD/MI, Jogjakarta: DIVA Press, 2010, h 7.
[10] Mahmud,  Op. Cit, h 100.
[11] Ibid, h 61.
[12] Muslam, Pengembangan Kurikulum MI/PAI SD, Semarang: PKPI2, 2006, h 77.
[13] Abdul Majid, Pembelajaran Tematik Terpadu, Bandung: Remaja Rosdakarya, Cet ke II., 2014., h 85.
[14] Ibnu Hajar, Op, cit., h 22.
[15] Mahmud ,Op, cit., Bandung: CV Pustaka Ceria., h 62.
[16] Umar Tirtarahardja dan S. L. La Sulo. Pengantar Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: PT Asdi Mahasatya Cet Ke 2, h 83.
[17] Ibnu Hajar. Op.cit, h 28.
[18] Umar Tirtarahardja dan S. L. La Sulo. Op. Cit., h 88.
[19] Ibnu Hajar . Lock. Cit, h 28-29.
[20] Abdul Majid, Op. Cit., h 89.
[21]Abdul Majid, Op.cit.  h. 93.
[22] Ibnu Hajar, Op, cit., h 23-25
[23] Umar Turtarahardja dan S. L. La Sulo, Op.cit. h 100.
[24] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet ke VI, 2011, h 62.
[25] Ibid, h 100.
[26] Ibnu Hajar., Lock, cit,  h 100.
[27] Alex Sobur, Psikologi Umum, Bandung: CV Pustaka Setia, 2010, h 219.
[28]Nana Syaodih Sukmadinata.  Op. Cit. h 156.
[29] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Cet ke 2. 2004. h 127.
[30] Alex Sobur. Op.cit. h 219.
[31] Nana Syaodih Sukmadinata. Op. Cit. h 157.

[32]. Nana Syaodih Sukmadinata. Op.cit., h 12.
[33] Sugiyono, Statistik Nonparametris Untuk Penelitian, Bandung: CV Alfabeta, Cet VI, 2006, h 5.
[34] Ibnu Hajar, Dasar-dasar Penelitian Pendidikan, Semarang: Fakultas Tarbiyyah IAIN Walisongo, 1994, h 21.
[35] Sugiyono., Sistematika Penelitian., Bandung: Alfa Beta, 2000, h. 55.
[36] Sumanto., Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan., Yogyakarta: Andi Soffet. 1990, h. 23.
[37] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Pendidikan Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, Cet XII, h 134.
[38] Nana Sudjana dan Ibrahim., Penelitian dan penilaian Pendidikan., Bandung: Sinar Baru Algesindo., Cet ke – IV., 2007., h 11.
[39] Sugiyono, Metode Penelitian, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. 2006.  h. 60-61.
[40] Abdul Majid., Op Cit., 89-91.
[41] Sardiman., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar., Jakara: Rajawali Press., 2011., h 91.
[42] Koentjoroningrat, Metode-metode penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia, 1989, h 173.
[43] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Pendidikan Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, Cet XII, h 231.
[44] http://id.wikipedia.org/wiki/Pengamatan., diakses pada tanggal 1 November 2014 Pukul 22:00.
[45] http://id.wikipedia.org/wiki/Wawancara. diakses pada tanggal 1 November 2014.
[46] Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010,  h.206.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI BAHASA JAWA KELAS VI SEMESTER 1 "CERITA WAYANG GATHOTKACA GUGUR"

cahpter 1

dalam sapaku untuk kamuu...